BERGABUNG DENGAN SAUDARA-SAUDARA KITA

Mazmur 122:1

Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: “Mari kita pergi ke rumah TUHAN.”

Ketika saya pergi ke gereja pada hari Minggu, saya diingatkan bahwa saya adalah salah satu dari para pendosa yang menjadi alasan Kristus mati. Ia tidak mati bagi dosa seluruh dunia kecuali saya. Ketika Ia menanggung penderitaan salib Golgota pada hari Jumat Agung, Ia melakukannya karena saya adalah seorang pendosa. Ketika keluarga saya berkumpul untuk beribadah, kami diingatkan akan pengorbanan Kristus. Kami juga sadar bahwa kami adalah bagian dari kematian dan penguburan Kristus yang terjadi bagi kami hampir 2.000 tahun yang lalu. Dalam Roma 6:5 tertulis, “Sebab jika kita telah menjadi satu dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan kebangkitan-Nya.”

Janji besar ini memberikan kita pengharapan untuk menghadapi berbagai persoalan hidup. Kristus dikuburkan dan bangkit. Melalui iman, saudara dipersatukan dengan Kristus, dan saudara juga akan bangkit. Bahkan, penguburan spiritualmu di dalam Dia dan harapan akan kemuliaan mengubah caramu menghadapi masalah sehari-hari.

Kolose 3:1-4 berkata: “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus berada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri-Nya, kamu pun akan menyatakan diri bersama-sama dengan Dia dalam kemuliaan.”

Lihatlah, Allah ingin saudara dan keluargamu mengalami damai sejahtera. Ia ingin saudara menikmati berkat pengampunan-Nya—atas dosa-dosa yang telah merusak damai di rumah tanggamu. Ia ingin saudara tahu bahwa pengharapan akan kebangkitan Kristus dapat membawa pengharapan ke dalam hidup keluargamu—sekarang juga. Ketika kita berkumpul bersama dalam ibadah, kita sedang meneruskan perayaan Paskah. Namun sukacita ini bukan hanya untuk keluarga. Ini untuk saudara juga.

Jika saudara adalah orang tua tunggal, jangan merasa bahwa saudara tidak termasuk. Jika saudara adalah seorang duda, janda, atau orang yang bercerai, jangan merasa tersisih. Jika sadara belum menikah, jangan merasa dikecualikan. Kita semua—para pendosa—ada dalam perjalanan ini bersama-sama. Kita semua ingin melihat bagaimana iman kita relevan dalam kehidupan sehari-hari. Kita mendengar bahasa rohani dan kita dengan rendah hati bertanya, “Apa artinya ini bagiku?” Jawabannya adalah: kemuliaan kebangkitan Kristus adalah untuk kita semua. Kabar ini terus hadir dalam pesan pengampunan dan pengharapan yang kita alami setiap kali kita berkumpul dalam ibadah.

Penulis lagu Christopher Wordsworth memuji ibadah pada Hari Tuhan dengan kata-kata ini: “O hari perhentian dan sukacita, O hari kegembiraan dan terang. Obat bagi kepedihan dan duka, paling indah, paling terang. Di hari itu, yang tinggi dan rendah, di hadapan takhta kekal, bernyanyi: ‘Kudus, kudus, kudus,’ kepada Yang Esa dalam Tiga Pribadi.”

KITA BERDOA:

Bapa Surgawi, terima kasih atas anugerah dan kehormatan untuk dapat berkumpul bersama menyembah Engkau. Dalam Nama Yesus kami berdoa. Amin.

Renungan ini ditulis berdasarkan khotbah “On Thee, the High and Lowly” oleh Pdt. Dr. Dale Meyer, Speaker Emeritus untuk The Lutheran Hour.

 

Pertanyaan Refleksi:

1. Apakah pergi ke gereja menjadi bagian dari rutinitas keluargamu saat kecil? Mengapa jika ya atau mengapa jika tidak?

2. Sebutkan tiga manfaat yang saudara peroleh dari pergi ke gereja.

3. Bagaimana pengalaman “gereja”-mu sekarang—rutin, sesekali, daring, atau hanya saat keluarga datang berkunjung?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top