
Mazmur 46:4–7
4 (46-5) Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai.
5 (46-6) Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi.
6 (46-7) Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumi pun hancur.
7 (46-8) TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub.
Sejak awal penciptaan, Allah menempatkan sebuah sungai yang mengalir keluar dari taman Eden. Sungai itu kemudian terbagi menjadi empat: Pison, Gihon, Tigris, dan Efrat—semuanya membawa air kehidupan ke seluruh bumi yang baru diciptakan. Para ahli Alkitab kini hanya dapat memperkirakan letak Pison dan Gihon, tetapi Tigris dan Efrat masih dikenal sampai hari ini.
Di masa depan—dalam kehidupan kekal bersama Yesus di surga—akan ada sungai lain “yang alirannya menggembirakan kota Allah.” Sungai itu disebut “sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, mengalir dari takhta Allah dan Anak Domba” (Wahyu 22:1).
Di antara kisah dua sungai kehidupan itu, mengalir sungai Yordan. Bangsa Israel menyeberangi Yordan ketika mereka meninggalkan padang gurun menuju Tanah Perjanjian yang dijanjikan Allah. Tuhan Yesus pun turun ke dalam air sungai Yordan untuk dibaptis—Sang Anak Allah yang tanpa dosa merendahkan diri-Nya, menyatu dengan para pendosa yang datang untuk bertobat. Saat Yesus keluar dari air, Roh Kudus turun atas-Nya dalam rupa burung merpati dan diam di atas-Nya.
Dikuatkan oleh Roh Kudus, Yesus kemudian menjanjikan kepada semua orang percaya bahwa mereka pun akan menerima karunia Roh yang sama. Kepada perempuan Samaria di sumur Yakub, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Mesias dan menawarkan “air hidup” yang akan menjadi “mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yohanes 4:14).
Mereka yang minum air itu tidak akan haus lagi. Sebab Yesus juga berjanji,
“Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” (Yohanes 7:38)
Air hidup itu adalah Roh Kudus sendiri—yang bekerja di dalam hati kita sejak kita dibaptis. Roh Kudus adalah “jaminan warisan kita sampai kita memperolehnya sepenuhnya” (Efesus 1:14). Ia menjadi tanda pasti bahwa, oleh kasih karunia Allah melalui iman kepada Yesus, kita akan menerima kehidupan kekal yang dijanjikan.
Anak Domba yang disembelih bagi kita adalah Gembala yang menuntun kita ke padang rumput hijau dan air yang tenang. Dan kelak, ketika kita hidup di hadapan-Nya untuk selamanya, Sang Gembala itu akan menghapus segala air mata dari mata kita, mengenyangkan kita dengan kasih-Nya, dan menghapus segala dahaga jiwa kita untuk selama-lamanya.
Sungai yang menggembirakan kota Allah itu akan menjadi sumber sukacita kita yang kekal.
DOA:
Tuhan, biarlah air hidup dari Roh-Mu meluap melalui perkataan, kasih, dan pelayanan hidupku, sehingga orang lain pun merasakan kasih-Mu. Amin.
Renungan harian ini ditulis oleh Dr. Carol Geisler.
Pertanyaan Refleksi:
- Apakah saudara punya sungai atau danau favorit yang istimewa bagimu? Mengapa tempat itu berkesan?
- Air sering muncul dalam kisah-kisah Alkitab. Bisakah saudara menyebutkan beberapa peristiwa penting yang melibatkan air?
- Bagaimana Yesus memberikan kepada kita “air” yang tidak akan pernah kering?
