
Efesus 2:13-14, 19-21
13 Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus.
14 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,
19 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,
20 yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.
21 Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.
Pernahkah saudara merasa asing berada di luar, hanya melihat dari jauh? Mungkin itu terjadi pada hari pertama saudara kuliah, atau di tempat kerja baru. Mungkin pada hari pertama sekolah, atau saat saudara pindah ke lingkungan yang baru. Mungkin juga saudara pernah merasa begitu bahkan di dalam keluarga atau di antara teman-teman. Rasanya berat menjadi orang luar yang hanya melihat dari jauh. Lebih sulit lagi ketika harus merobohkan tembok permusuhan, kesalahpahaman, dan perpecahan—tembok yang bukan hanya memisahkan kita dari sesama, tetapi juga dari Allah sendiri.
Apa yang dibutuhkan supaya damai sejahtera—damai yang sejati—dapat benar-benar berkuasa? Damai yang tidak perlu dipaksakan, ditekan, atau diperalat. Apa yang bisa mendamaikan kembali sahabat—bahkan musuh—ketika ada luka atau ketidakadilan yang nyata? Apa yang dapat menyembuhkan hati yang hancur, hati yang takut, ketika kekacauan
Damai yang seperti itu hanya bisa disebut mujizat; damai yang seperti itu harus penuh dengan keadilan, menuntut pertobatan, tetapi sekaligus penuh belas kasihan, penuh kasih, dan tersedia bagi semua orang. Damai sejahtera seperti itu hanya bisa dikerjakan oleh Allah sendiri—dan itulah damai sejahtera serta pendamaian yang ditawarkan oleh teks kita hari ini.
Itulah damai sejahtera yang datang kepada saudara dan saya hari ini, sahabat terkasih. Firman ini berkata: “Hidupmu berharga bagi Allah, dan Allah bisa membawa damai sejahtera bagi kamu dan saya ketika kita menaruh iman kepada-Nya dalam segala hal!”
Rasul Paulus menulis surat ini kepada orang-orang Kristen baru di Efesus yang sedang berjuang mendamaikan perbedaan dan perpecahan yang sudah ada selama berabad-abad antara dua kelompok: orang Yahudi dan orang non-Yahudi (bangsa-bangsa lain). Ada tembok permusuhan yang nyata, dan bukan hanya di antara mereka, tetapi juga antara mereka dengan Allah. Karena dosa mereka, tembok-tembok itu berdiri kokoh memisahkan mereka dari-Nya!
Paulus menuliskan tentang damai sejahtera yang merobohkan tembok-tembok itu dan mendamaikan segala sesuatu kepada Allah di dalam Kristus. Meskipun mereka tidak mampu karena dosa mereka, Allah tetap peduli kepada mereka dan telah menghancurkan tembok yang memisahkan kita dari Dia dan dari sesama! Mujizat, luar biasa—itulah Allah yang bertindak bagi mereka, bagi kita, semuanya di dalam Yesus Kristus!
Solusi Allah adalah keselamatan bagi semua orang melalui Yesus. Ini adalah undangan oleh kasih karunia saja untuk menjadi bagian dari keluarga-Nya dan hidup yang dipenuhi oleh Roh di dalam Kristus—hidup yang bisa mulai mengampuni seperti kita telah diampuni, melayani seperti kita telah dilayani!
Tidak ada lagi orang asing atau pendatang. Di dalam Kristus kita bisa menjadi anggota keluarga Allah.
Dengarlah Firman Allah ini untukmu hari ini, apa pun keadaanmu saat ini: hidupmu berharga bagi-Nya. Dengan iman yang berakar di dalam Yesus, kita adalah bagian dari keluarga-Nya, dan itu berarti hidupmu dan hidupku sama-sama berharga—bukan hanya bagi sesama, tapi juga bagi Dia. Dan itu mengubah segalanya!
KITA BERDOA: Bapa Surgawi, melalui Roh Kudus-Mu, gerakkanlah kami untuk menyampaikan undangan damai-Mu kepada orang lain. Dalam Nama Yesus. Amin.
Berdasarkan khotbah “In Christ, Welcome Home” oleh Pdt. Dr. Gregory Seltz, mantan Pembicara The Lutheran Hour.
Pertanyaan Refleksi:
- Ketika saudara merasa asing berada di luar suatu kelompok, apakah saudara berusaha masuk, atau menunggu orang lain datang kepadamu?
- Apakah saudara merasakan ikatan khusus dengan orang-orang di gerejamu yang langsung berkaitan dengan iman yang kalian bagikan?
- Bagaimana caramu membantu orang lain yang mungkin merasa sebagai “orang luar” agar lebih nyaman dalam suatu pertemuan atau situasi sosial?
