SEMUANYA TERGANTUNG PADA ALLAH JUGA KEPADA KITA

Filipi 2:12b-13  

12 ………; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, …………..

13 karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.

Ayat ini memperlihatkan sebuah paradoks: saudara harus melakukan bagianmu, tetapi Allah yang mengerjakan segalanya. Kedengarannya bertentangan, bukan? Bagaimana mungkin keduanya benar—bahwa di satu sisi Allah memperlakukanmu seperti barang berharga yang Dia bawa dengan penuh hati-hati, tetapi di sisi lain Allah juga menuntut tanggung jawabmu sebagai seorang yang harus bertindak?

Kalau dipikir-pikir, dalam hidupmu pasti ada momen di mana saudara diperlakukan seperti “barang berharga.” Lihat saja pusarmu—itu bukti nyata! Seseorang pernah menolongmu, merawatmu, melakukan segalanya untukmu tanpa meminta persetujuanmu. Semua itu adalah pemberian. Tapi di sisi lain, saudara juga dibesarkan untuk menjadi seorang yang bertanggung jawab. saudara punya talenta dan kemampuan. Saudara diberi pekerjaan dan tanggung jawab. Kalau saudara  gagal, ada konsekuensinya. Namun, meskipun saudara makin dewasa dan bertanggung jawab, saudara tetap bisa sadar bahwa segalanya sebenarnya adalah pemberian. Matahari terbit, hujan turun, waktu menanam dan panen datang. Jantungmu berdetak. Orang lain menolongmu, memberi kesempatan. Bahkan kerja kerasmu dan pilihan bijakmu pun sesungguhnya ditolong orang lain, atau sudah ditanamkan Allah sejak awal—seperti pohon oak yang tersembunyi dalam sebuah biji kecil.

Kalau pengalaman-pengalaman itu dipikirkan secara terpisah, rasanya tidak nyambung. Agen / pengikut yang bertanggung jawab (dalam hal ini saudara) itu kebalikan dari “barang berharga.” Barang berharga hanya diam, sementara agen bertindak/bergerak. Bagaimana mungkin kita bisa menjadi keduanya sekaligus?

Alkitab tidak menyuruh kita “memecahkan masalah” ini. Alkitab memberikan kisah nyata di mana kita belajar menerima misteri ini, sambil menyadari bahwa kita sudah terlebih dulu dipeluk oleh Allah. Coba ingat kitab Bilangan. Itu kisah bagaimana Allah melatih umat-Nya untuk menjadi agen-Nya yang bisa dipercaya. Dan ketika mereka menolak melakukan bagian mereka, Allah menghormati pilihan mereka dan membiarkan mereka menanggung akibat pemberontakan itu—mereka harus berkelana 40 tahun di padang gurun. Kemudian, Musa menengok ke belakang dan berkata bahwa Allah sedang merendahkan hati mereka, menguji, dan mendidik mereka “seperti seseorang mendidik anaknya” (Ulangan 8:5b). Allah tidak berhenti memperlakukan mereka sebagai agen yang bertanggung jawab. Tapi Musa juga bisa melihat kebenaran lain: mereka adalah barang berharga Allah. Di padang gurun itulah “Allah menggendong kamu, seperti seorang menggendong anaknya, sepanjang jalan yang kamu tempuh …” (Ulangan 1:31b).

Kita memegang kedua sisi dari paradoks ini karena keduanya berasal dari hati Allah. Allah telah menjadikanmu anak-anak-Nya melalui baptisan ke dalam kematian dan kebangkitan Yesus. Dia membangkitkanmu dalam Kristus untuk menjadi agen-Nya yang dapat dipercaya. Dan Dia mengingat bahwa “engkau debu” (Kejadian 3:19b)—debu yang Dia ciptakan dan beri kehidupan, yang akan kembali menjadi debu jika Dia menarik Roh-Nya walau hanya sedetik saja (Mazmur 104:29). Namun tetap saja, di dalam Kristus, Dia berkata bahwa engkau adalah “harta kesayangan-Ku” (Keluaran 19:5b), barang berharga milik Allah. Saudara tidak bisa menyelamatkan dirimu sendiri, tetapi saudara dipanggil untuk mengerjakan keselamatanmu. Dan suatu hari nanti, saudara akan melihat ke belakang dan berkata: “Segala kebaikan yang kulakukan—itu semua karya Allah” (Yohanes 3:21).

KITA BERDOA: Yesus yang terkasih, tolonglah aku bekerja dengan seluruh tenaga-Mu yang bekerja di dalamku. Amin.

Renungan Harian ini ditulis oleh Pdt. Dr. Michael Zeigler, Pembicara The Lutheran Hour.

Pertanyaan Refleksi:

  1. Kapan saudara lupa bahwa Allah memandangmu sebagai agen-Nya yang dapat dipercaya? Apa yang menolongmu untuk kembali ingat?
  2. Kapan saudara  lupa bahwa Allah memandangmu sebagai barang berharga-Nya? Apa yang menolongmu untuk kembali ingat?
  3. Pernahkah ada saat di mana saudara benar-benar merasakan kedua kebenaran ini sekaligus?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top