
Yohanes 12:20-24, 27-33
20 Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani.
21 Orang-orang itu pergi kepada Filipus, yang berasal dari Betsaida di Galilea, lalu berkata kepadanya: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.”
22 Filipus pergi memberitahukannya kepada Andreas; Andreas dan Filipus menyampaikannya pula kepada Yesus.
23 Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.
24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.
27 Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.
28 Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Maka terdengarlah suara dari sorga: “Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!”
29 Orang banyak yang berdiri di situ dan mendengarkannya berkata, bahwa itu bunyi guntur. Ada pula yang berkata: “Seorang malaikat telah berbicara dengan Dia.”
30 Jawab Yesus: “Suara itu telah terdengar bukan oleh karena Aku, melainkan oleh karena kamu.
31 Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar;
32 dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.”
33 Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.
Bayangkan bagaimana perasaan Yesus saat itu. Dia sudah mengajar, menyembuhkan, dan memberitakan firman kepada bangsa Israel selama tiga tahun penuh—dan semua itu berjalan menuju salib. Dia tahu kematian-Nya sudah dekat, Dia tahu detailnya—bahwa salah satu sahabat-Nya sendiri akan mengkhianati Dia, bahwa Dia akan ditolak, disiksa, dan disalibkan di depan umum dengan penuh kehinaan. Dia juga tahu bahwa Allah akan memakai penderitaan-Nya untuk memberikan hidup baru kepada miliaran orang, yang semuanya akan menjadi anak-anak Allah, diselamatkan, diberkati, dan dipenuhi sukacita. Dia bahkan tahu bahwa Allah akan membangkitkan Dia dari kematian—dan Yesus sendiri akan melihat hasil besar dari kematian-Nya itu.
Tetapi sebelum semua itu ada sukacita, terlebih dulu ada penderitaan. Yesus harus melewati rasa takut, kesedihan, dan kehilangan. Dan Yesus itu manusia. Tentu saja Dia tidak ingin mati!
Saya bisa membayangkan orang-orang Yunani yang datang itu pasti bingung melihat reaksi-Nya. Mereka hanya ingin sedikit waktu untuk bertemu Dia. Mereka tidak tahu bahwa kedatangan mereka justru menjadi tanda dimulainya penderitaan Yesus.
Tetapi memang begitu. Karena Yesus tahu, dan selalu tahu, bahwa pekerjaan memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa non-Yahudi adalah tugas gereja-Nya. Yesus menghabiskan waktu yang singkat di dunia ini terutama bersama orang Yahudi—dan itu memang benar, sebab Allah sudah memberikan janji-janji kepada mereka, yang Yesus harus genapi. Tetapi sekarang gelombang kecil pertama dari orang-orang non-Yahudi sudah datang, dan inilah saatnya gereja mulai bergerak—yang berarti Yesus harus mati. Dan hal itu sungguh membuat hati-Nya berat.
Saya bersyukur bisa melihat Yesus benar-benar sebagai manusia. Saya sedih melihat penderitaan-Nya, tetapi saya juga sangat bersukacita menyadari betapa besar kasih-Nya kepada kita, dan kepada Bapa-Nya—karena tidak sekalipun Dia mencoba menolak jalan penderitaan itu. Begitulah besar kasih-Nya kepada kita. Begitulah kerinduan-Nya untuk melihat kita aman, diberkati, dan bersama Dia selamanya.
Kita berdoa: Tuhan, terima kasih karena Engkau begitu mengasihi kami. Aku pun mengasihi-Mu. Amin.
Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.
Pertanyaan Refleksi:
- Menurutmu, apakah orang-orang Yunani itu akhirnya sempat bertemu dengan Yesus?
- Bagaimana rasanya kalau saudara hidup dengan sudah mengetahui detail kematianmu sejak awal?
- Bagaimana Yesus menarikmu datang kepada-Nya? (lihat Yohanes 12:32)
