
Lukas 11:1a
“Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di suatu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: ‘Tuhan, ajarlah kami berdoa ….'”
Memulai percakapan—itulah hal terpenting yang mereka lakukan. Tapi dia baru menyadarinya kemudian.
Dia tidak menyadarinya pada saat itu karena hal itu seperti ikan yang tidak menyadari air yang dihirupnya.
Itu ada di sekelilingnya, tetapi luput dari perhatiannya. “Itu terlalu besar,” katanya, “sebesar napas bagi hidup kita, sepusat itulah hal itu bagi pekerjaan kami.” Setiap hari, saat mereka menjalankan pekerjaan mereka seperti biasa, bisnis utama mereka selalu untuk “memulai percakapan.” Karena tanpa percakapan, orang-orang yang dijatuhi hukuman mati “memiliki kecenderungan buruk untuk menjadi gila.”
Itulah pengamatan dari narator dalam novel The Green Mile karya Stephen King. Saat kita bertemu dengannya, ia adalah seorang pria tua yang menceritakan tentang pekerjaannya di rumah tahanan hukuman mati sebuah penjara negara bagian, tempat di mana selama kariernya, ia mengawasi eksekusi 78 orang. Judul novel The Green Mile merujuk pada lorong yang dilalui para terpidana mati pada hari terakhir mereka. Lorong itu hanya sepanjang sekitar enam puluh langkah, tetapi terasa seperti satu mil. Dan warna”hijaunya”? Itu hanya warna linoleum lantainya.
Bertahun-tahun kemudian, pria tua itu merenungkan lorong itu, duduk di ruang terbuka sebuah panti jompo yang setiap hari terasa semakin mirip rumah kematian: “Kita semua berutang sebuah kematian,” katanya, “tidak ada pengecualian. Aku tahu itu, tetapi kadang-kadang, ya Tuhan, Green Mile itu begitu panjang.” Dan terlebih lagi jika kamu tidak punya siapa pun untuk diajak bicara.
Salah satu fakta keras dalam hidup adalah kematian. Dan salah satu kebenaran pahit dalam Kitab Suci adalah bahwa kematian adalah “upah dosa” (Roma 6:23). Sejak Adam dan Hawa memberontak melawan Allah, kita semua berada di bawah hukuman yang sama: “Engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu” (Kejadian 3:19b).
Namun, bagi mereka yang dibaptis dalam Kristus, kematian itu sudah terjadi. Alkitab berkata bahwa kamu telah dibaptis ke dalam kematian-Nya (lihat Roma 6:3-5). Dan karena kita telah dipersatukan dengan Dia dalam kematian, kita percaya bahwa kita juga akan dipersatukan dengan-Nya dalam kebangkitan seperti kebangkitan-Nya. Tetapi kebangkitan tubuh itu masih akan datang. Dan Green Mile yang panjang itu masih terbentang di depan kita. Kita harus menapakinya. Namun kita tidak berjalan sendiri. Allah bersama kita, dan pusat dari karya-Nya adalah memulai percakapan dengan kita.
Percakapan Allah berbeda dari percakapan kita. Percakapan Allah bahkan tidak membutuhkan pendengar agar bisa efektif. Percakapan Allah menciptakan pendengar di mana sebelumnya tidak ada. Percakapan Allah membuat yang tuli mendengar dan yang mati hidup kembali. Dan Allah ingin memulai percakapan itu denganmu. Yesus menyebutnya “doa.” Dia bahkan memberikan kepada kita kata-kata yang indah untuk memulainya.
Maka, berbicaralah kepada-Nya. Bicaralah dengan suara, di dalam hati, di sepanjang jalan. Bicaralah kepada-Nya lewat Kitab Suci, nyanyian, dan dalam persekutuan dengan sesama orang percaya. Bicaralah kepada-Nya dari lembah bayang-bayang maut dan lantai linoleum dingin dari rumah kematian. Dan Ia akan ada di sana—sekarang dan nanti—ketika Green Mile yang panjang itu ada di belakang kita, ketika orang mati dibangkitkan, ketika Kerajaan Allah datang, dan doa menjadi seperti udara yang kita hirup.
KITA BERDOA:
Yesus yang terkasih, ajarlah aku berdoa. Amin.
Renungan Harian ini ditulis oleh Pdt. Dr. Michael Zeigler, Pengkhotbah dari The Lutheran Hour.
Pertanyaan Refleksi:
1. Apa yang membantumu tetap fokus pada perintah dan janji-janji Allah saat berdoa?
2. Doakan Doa Bapa Kami secara perlahan. Jika saudara harus memilih satu bagian dari doa itu sebagai “landasan awal” untuk doa-doa lainnya, bagian mana yang akan saudara pilih?
3. Siapa seseorang yang bisa saudara doakan hari ini? Dan siapa seseorang yang bisa saudara ajak berdoa bersama?
