TAK ADA YANG LEBIH IA SUKAI UNTUK DILAKUKAN

Mazmur 8:3-4

3 Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:

4 apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?

Pernahkah saudara menatap langit malam, jauh dari cahaya kota, melihat hamparan langit berbintang di atas—dan merasa kecil, tersesat di tengah kebesaran ciptaan itu?

Daud, penulis Mazmur 8, dulunya adalah seorang gembala. Mungkin perasaan seperti itu datang padanya suatu malam saat menjaga domba. Ia memandang ke atas dan melihat lautan bintang yang tampak tak berujung ke segala arah, dan ia merasa kecil, seolah-olah dilupakan. Tetapi kemudian ia teringat siapa yang menempatkannya di sana. Ia teringat tujuan hidupnya. Allah Abraham telah menjadikan Daud dan umat-Nya sebagai ahli waris dari janji besar dan panggilan lama yang dulu sempat hilang—tetapi tidak pernah dilupakan. Allah, yang menciptakan segalanya hanya dengan Firman-Nya—yang memenuhi bumi, laut, dan langit dengan ciptaan yang tak terhitung—yang memerintah sebagai Raja atas semua makhluk, baik yang kelihatan maupun tak kelihatan—Tuhan itu memanggil Daud dan seluruh umat manusia sebagai rekan kerja-Nya, untuk merawat ciptaan-Nya, mengusahakannya dan memeliharanya.

Dan Daud, dalam momen itu—mengusahakan sepetak kecil bumi yang dipercayakan padanya, menjaga kawanan dombanya, melakukan semuanya karena kasih dan demi kemuliaan Allah—Daud tahu bahwa tak ada hal lain yang lebih ingin ia lakukan.

Hafalkan sembilan ayat puisi Daud dalam Mazmur 8, dan saudara akan merasakan sukacita dan kekagumannya. Tapi saudara juga mungkin akan merasakan kehilangan, karena gambaran ideal dalam Mazmur 8 telah hilang. Gambar manusia sebagai mitra Allah yang bijak, dihormati, dan bekerja sama memelihara ciptaan yang baik dari Tuhan—kita telah tersesat. Ular tua itu, si Iblis, menyesatkan kita. Kita yang diciptakan untuk menjadi mitra Allah, kini telah menjadi musuh-Nya.

Tetapi bahkan ketika kita masih menjadi musuh-Nya, Allah tetap peduli. Ia mengutus Anak-Nya yang terkasih untuk menjadi salah satu dari kita—seorang anak Adam, Anak Manusia. Anak Allah menjadi Manusia, direndahkan “sedikit lebih rendah dari malaikat,” supaya “oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua orang” (Ibrani 2:9b). Dengan kata lain, Yesus memeluk keterhilangan kita di atas salib. Lalu Ia bangkit dari kematian untuk membuktikan bahwa janji Allah bagi kita tidak dilupakan. Panggilan kita belum hilang.

Percayalah ini: sampai Yesus kembali untuk menyelesaikan pekerjaan-Nya, Allah—Bapa, Anak, dan Roh Kudus—akan terus memanggilmu, merawatmu, dan bekerja bersamamu, dalam dan melalui dirimu, untuk kebaikan ciptaan-Nya. Bukan karena Dia harus melakukannya, melainkan karena tak ada yang lebih Ia sukai untuk dilakukan.

KITA BERDOA:

Bapa surgawi, betapa mulianya Nama-Mu di seluruh bumi, melalui Yesus Kristus. Amin.

Renungan harian ini ditulis oleh Pdt. Dr. Michael Zeigler, pengkhotbah dari The Lutheran Hour.

Pertanyaan Refleksi:

  1. Dalam panggilan atau pekerjaanmu, kapan kamu merasa seperti, “Tak ada yang lebih ingin saya lakukan selain ini”?
  2. Dengan karunia dan talenta yang saudara miliki, di mana saudara melihat kemuliaan Allah sedang bekerja dalam dirimu?
  3. Dalam 90 hari ke depan, bagaimana saudara  bisa mengembangkan salah satu dari karunia itu untuk pelayanan yang lebih besar kepada sesama?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top