Allah yang Tidak Menyerah

Yesaya 65:1-5, 8-9

1 Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: “Ini Aku, ini Aku!” kepada bangsa yang tidak memanggil nama-Ku.

2 Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada suku bangsa yang memberontak, yang menempuh jalan yang tidak baik dan mengikuti rancangannya sendiri;

3 suku bangsa yang menyakitkan hati-Ku senantiasa di depan mata-Ku, dengan mempersembahkan korban di taman-taman dewa dan membakar korban di atas batu bata;

4 yang duduk di kuburan-kuburan dan bermalam di dalam gua-gua; yang memakan daging babi dan kuah daging najis ada dalam kuali mereka;

5 yang berkata: “Menjauhlah, janganlah meraba aku, nanti engkau menjadi kudus olehku!” Semuanya ini seperti asap yang naik ke dalam hidung-Ku, seperti api yang menyala sepanjang hari.

8 Beginilah firman TUHAN: “Seperti kata orang jika pada tandan buah anggur masih terdapat airnya: Janganlah musnahkan itu, sebab di dalamnya masih ada berkat! demikianlah Aku akan bertindak oleh karena hamba-hamba-Ku, yakni Aku tidak akan memusnahkan sekaliannya.

9 Aku akan membangkitkan keturunan dari Yakub, dan orang yang mewarisi gunung-gunung-Ku dari Yehuda; orang-orang pilihan-Ku akan mewarisinya, dan hamba-hamba-Ku akan tinggal di situ.

Kalau kita pikirkan, kita memiliki Allah yang sangat berbeda dan luar biasa aneh menurut logika dunia. Dia tidak duduk di bait-Nya menunggu orang membawa kurban kepada-Nya. Tidak, kita memiliki Allah yang mengejar kita—yang berseru,
“Ini Aku, ini Aku!” kepada bangsa yang malah sedang lari dari-Nya—Allah yang turun ke dunia kita, mencari mereka yang telah memberontak terhadap-Nya, bahkan yang bersembunyi dari-Nya.

Cobalah tanya temanmu yang belum percaya: Apakah seperti ini seharusnya Allah yang sejati? Bukankah seharusnya Dia punya harga diri, dan tidak mengejar orang-orang yang jelas-jelas menolak Dia? Dewa-dewa dari agama lain tidak melakukan ini. Namun Allah kita—Allah kita bertindak seperti seorang kekasih yang ditolak, yang masih ingin mengembalikan kekasihnya. Dia tidak sombong, tidak peduli dengan omongan orang, tidak

menghitung harga yang harus Dia bayar. Dia tetap datang, tetap mencari kita.

Dan Allah tak pernah lebih nyata bertindak seperti ini daripada ketika Dia datang ke dunia sebagai bayi manusia, Yesus Kristus, Juruselamat kita.
Dia datang dengan tujuan tunggal: menyelamatkan kita dan membawa kita pulang kepada Allah.

Namun, hal itu mengorbankan segalanya:

  • tahun-tahun pelayanan,
  • pengkhianatan dari sahabat dekat,
  • penderitaan,
  • kehinaan,
  • dan akhirnya kematian di kayu salib.

Semua itu Dia alami demi mendapatkan kita kembali, karena Dia mengasihi kita.

Dan pada hari ketiga setelah kematian-Nya, Yesus bangkit dari kematian, dan tidak mati lagi. Ia menampakkan diri kepada para pengikut-Nya, dan mengutus mereka untuk menyampaikan Kabar Baik kepada siapa saja yang mau mendengar:
bahwa semua orang yang percaya kepada Yesus bisa pulang kepada Allah sebagai anak-anak yang diampuni, dikasihi, dan akan hidup selamanya.

KITA BERDOA:

Juruselamat yang terkasih, terima kasih karena Engkau selalu mencariku. Aku ingin menjadi milik-Mu untuk selama-lamanya. Amin.

Renungan harian ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.

Pertanyaan Refleksi:

  1. Jika seseorang membencimu, apakah kamu akan terus berusaha mendekatinya, atau menyerah saja? Mengapa?
  2. Mengapa Allah terus mencari kita?
  3. Apakah saudara ingin ditangkap oleh Allah yang seperti ini? Mengapa ya atau mengapa tidak?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top