
Galatia 3:23a, 24b, 25-26, 28; 4:1-3a, 4-7
23 Sebelum iman itu datang …………….
24 Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita ……..,
25 Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.
26 Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.
28 Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.
Galatia 4:1-7
1 Yang dimaksud ialah: selama seorang ahli waris belum akil balig, sedikit pun ia tidak berbeda dengan seorang hamba, sungguhpun ia adalah tuan dari segala sesuatu;
2 tetapi ia berada di bawah perwalian dan pengawasan sampai pada saat yang telah ditentukan oleh bapanya.
3 Demikian pula kita: selama kita belum akil balig, kita takluk juga kepada roh-roh dunia.
4 Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.
5 Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.
6 Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!”
7 Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.
Ada beberapa hewan liar yang tidak bisa dilepaskan kembali ke alam liar.
Mungkin kamu tahu maksudnya. Ada binatang-binatang yang terlalu terbiasa hidup dalam kandang, sehingga ketika penjaganya membuka pintu kandang dan membiarkan mereka keluar, mereka malah berbalik dan masuk kembali ke dalam kandang.
Mereka menolak kebebasan.
Dan itulah yang sedang dilakukan oleh orang-orang Kristen di Galatia—dan itu membuat Rasul Paulus sangat frustrasi.
Orang-orang Galatia berusaha hidup kembali di bawah Hukum Taurat Yahudi lama, berusaha menaati semua perintah dan aturan yang Allah berikan kepada Israel. Tapi ini adalah jebakan. Paulus menunjukkan bahwa Hukum itu hanya bersifat sementara—seperti penjaga anak-anak, atau seperti kandang bagi hewan liar yang sedang cedera. Itu bukan tempat tinggal permanen. Allah menginginkan kita untuk bebas—dan itu hanya mungkin melalui Yesus Kristus, Juruselamat kita.
Yesus adalah Allah sendiri yang turun ke dunia menjadi manusia seperti kita.
Dia juga lahir di bawah Hukum, dan berbeda dari kita, Dia berhasil menaati seluruh hukum itu dengan sempurna. Dia tidak pernah berdosa, tidak memiliki rasa malu atau kesalahan.
Iblis tidak bisa menuduh-Nya. Kematian tidak berhak atas-Nya, karena Dia tidak pernah berbuat dosa. Dan apa yang dilakukan Yesus dengan kesempurnaan-Nya itu? Dia memberikannya kepada kita.
Dan Dia mengambil dosa dan rasa malu kita, menjadikannya milik-Nya, lalu memikulnya ke salib—di sanalah Dia melenyapkannya untuk selamanya. Yesus bangkit dari kematian pada hari ketiga—tapi dosa-dosa kita tidak ikut bangkit!
Dan sekarang kita bebas—bebas untuk hidup bersama Sang Juruselamat yang mengasihi kita, dan yang mengajar kita setiap hari untuk berjalan dalam kebebasan, memandang kepada-Nya, mengasihi Dia, dan mengasihi sesama. Kita tidak perlu hidup dalam kandang lagi.
Kita berjalan bebas bersama Yesus.
KITA BERDOA:
Tuhan, ajarilah aku hidup dalam kebebasan di dalam Engkau. Amin.
Renungan harian ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.
Pertanyaan Refleksi:
1. Mengapa menurutmu ada orang yang lebih suka hidup di bawah Hukum (aturan) daripada dalam kebebasan?
2. Apa yang menakutkan dari kebebasan?
2. Jika saudara mengikuti Yesus karena kasih, apakah itu lebih mudah atau lebih sulit dibandingkan hidup dengan sekadar menaati aturan?
