
Lukas 8:26a, 27a, 28, 30, 35, 37b, 38-39
26 Lalu mendaratlah Yesus dan murid-murid-Nya di tanah orang Gerasa yang terletak di seberang Galilea.
27 Setelah Yesus naik ke darat, datanglah seorang laki-laki dari kota itu menemui Dia; orang itu dirasuki oleh setan-setan dan sudah lama ia tidak berpakaian dan tidak tinggal dalam rumah, tetapi dalam pekuburan.
28 Ketika ia melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur di hadapan-Nya dan berkata dengan suara keras: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi? Aku memohon kepada-Mu, supaya Engkau jangan menyiksa aku.”
30 Dan Yesus bertanya kepadanya: “Siapakah namamu?” Jawabnya: “Legion,” karena ia kerasukan banyak setan.
35 Dan keluarlah orang-orang untuk melihat apa yang telah terjadi. Mereka datang kepada Yesus dan mereka menjumpai orang yang telah ditinggalkan setan-setan itu duduk di kaki Yesus; ia telah berpakaian dan sudah waras. Maka takutlah mereka.
37 Lalu seluruh penduduk daerah Gerasa meminta kepada Yesus, supaya Ia meninggalkan mereka, sebab mereka sangat ketakutan. Maka naiklah Ia ke dalam perahu, lalu berlayar kembali.
38 Dan orang yang telah ditinggalkan setan-setan itu meminta supaya ia diperkenankan menyertai-Nya. Tetapi Yesus menyuruh dia pergi, kata-Nya:
39 “Pulanglah ke rumahmu dan ceriterakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat Allah atasmu.” Orang itu pun pergi mengelilingi seluruh kota dan memberitahukan segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya.
Saya sangat menyukai kisah ini—terutama karena akhirnya begitu unik. Ini adalah satu-satunya tempat dalam Alkitab yang saya tahu di mana Yesus berkata “tidak” kepada seseorang yang ingin mengikuti-Nya dan tinggal bersama-Nya.
Sebaliknya, Yesus mengutus orang itu kembali ke kotanya, berkata, “Pulanglah ke rumahmu dan ceritakanlah betapa besarnya perbuatan Allah atasmu.” Dan orang itu mematuhi—tetapi apakah saudara memperhatikan perubahan kata-katanya? Ayat itu mengatakan: “Ia memberitakan di seluruh kota betapa besar perbuatan Yesus atas dirinya.” Dan itu benar sekali. Yesus adalah Allah — Allah Anak—dan sungguh tepat bagi orang ini untuk memuji dan memuliakan Yesus karena telah menyelamatkan hidupnya dan memulihkannya.
Demikian juga kita memuji dan mengasihi Yesus karena alasan yang sama. Mungkin kita tidak pernah kerasukan setan, tetapi kita dulu juga berada dalam keadaan yang sama buruknya—diperbudak oleh dosa, hilang dalam kegelapan, jauh dari Allah. Jika saudara dibaptis saat bayi, mungkin saudara tidak ingat keadaan itu. Tapi saya ingat, karena saya datang kepada iman saat sudah dewasa. Percayalah, itu bukan saat yang menyenangkan! Saat saudara menyadari betapa besar yang telah Yesus lakukan untukmu, apa yang lebih wajar daripada ingin selalu bersama-Nya setiap saat?
Dan kita bisa!
Selama hidup kita, Yesus telah naik ke sebelah kanan Bapa, tetapi pada saat yang sama Dia menepati janji-Nya untuk selalu menyertai kita, “sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:20b).
Artinya, kita bisa melakukan dua hal sekaligus:
- Menceritakan kepada orang lain semua yang telah Yesus lakukan untuk kita—bagaimana Dia datang untuk membawa kita kembali kepada Allah,
- Bagaimana Dia menyerahkan hidup-Nya di kayu salib untuk menebus dosa dan rasa malu kita,
- Dan bagaimana Dia memberi kita pengampunan, damai, dan sukacita.
Kita bisa memberitakan bagaimana Dia bangkit dari kematian, dan bahwa Dia memberi hidup yang kekal bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.
Dan pada saat yang sama, kita bisa berpegang erat pada Yesus, mengasihi-Nya, percaya kepada-Nya, dan mengikuti-Nya setiap saat sepanjang hari.
KITA BERDOA:
Yesus yang terkasih, terima kasih karena Engkau menyertaiku selamanya. Ajarku untuk memberitakan kepada orang lain betapa besar kasih dan karya-Mu atas hidupku. Amin.
Renungan harian ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.
Pertanyaan Refleksi:
1. Apa yang telah Yesus lakukan untukmu secara pribadi?
2. Bagaimana saudara bisa melekat pada-Nya dalam kasih setiap hari?
3. Mintalah kepada-Tuhan agar membantumu menceritakan tentang Dia kepada orang lain.
