PENDAHULUAN KISAH TERBESAR

Yohanes 3:26-36

26 Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.”

27 Jawab Yohanes: “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga.

28 Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya.

29 Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh.

30 Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.

31 Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya.

32 Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu.

33 Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar.

34 Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas.

35 Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. 

36 Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”

Cerita saya ini tentang hari yang tak terlupakan. Seorang Pengantin perempuan tampak cantik dan berjalan menuju altar. Pengantin laki-laki menunggunya di sana. Semuanya terlihat sempurna. Pasangan ini berdiri menghadap altar bersama, dan upacara pun dimulai. Kemudian tiba waktunya untuk pertukaran cincin. Pengantin laki-laki menoleh ke pendampingnya untuk meminta cincin. Pendamping pengantin memasukkan tangannya ke dalam saku tempat ia menyimpan cincin—atau begitulah pikirnya.

Tiba-tiba, acara yang bahagia berubah menjadi momen panik. Di mana cincin itu? Pendamping pengantin mencari dengan panik tetapi tidak menemukannya. Pendamping pengantin perempuan ingin membantu mencarinya tetapi tidak tahu bagaimana atau di mana mencarinya. Pengantin laki-laki memberikan “tatapan” pada pendampingnya. Pengantin perempuan juga tidak senang. Jemaat tampak tidak percaya. Lalu pendamping pengantin itu teringat bahwa ia meninggalkan cincin di celana lain yang diputuskan untuk tidak dipakainya pada menit terakhir—celananya itu berada sekitar satu jam dari gereja.

Upacara berlangsung tanpa cincin tetapi tidak tanpa menjadikan insiden ini sebagai bagian yang paling diingat dari acara pernikahan, mulai saat itu dan seterusnya. Banyak cerita akan diceritakan di masa depan tentang pernikahan ini, tetapi, suka atau tidak suka, cerita yang akan tetap teringat di benak semua orang adalah cerita tentang pendamping pengantin ini.

Pendamping pengantin ini tidak menjalankan tugasnya dengan baik dan, sayangnya, menjadi pusat perhatian dalam pernikahan. Seorang pendamping pengantin tidak seharusnya melakukan apa pun untuk menjadi pusat perhatian dalam pernikahan. Dia ada di sana untuk memainkan peran pendukung. Jika dia melakukan tugasnya dengan baik, segalanya berjalan lancar, dan orang-orang dapat fokus pada apa yang penting: pernikahan antara pengantin laki-laki dan pengantin perempuan.

Saat ini, pendamping pengantin tidak banyak memiliki tanggung jawab dalam sebuah pernikahan, kecuali memberikan dukungan kepada pengantin laki-laki atau pasangan sesuai kebutuhan. Dalam banyak pernikahan, tugas utama yang dipercayakan kepadanya—dan yang diingat semua orang—adalah menjaga cincin. Namun, pada zaman Yesus, pendamping pengantin dikenal sebagai “sahabat mempelai laki-laki,” yang mengorganisasi pesta pernikahan, termasuk upacara itu sendiri.

Salah satu tanggung jawab utamanya adalah membawa pengantin perempuan ke kamar mempelai laki-laki, dan kemudian, setelah mendengar suara temannya, ia mengizinkan pengantin laki-laki masuk ke kamar untuk bersama istrinya. Dengan cara itu, sahabat mempelai laki-laki juga dapat memberikan kesaksian tentang terpenuhinya pernikahan mereka. Seorang pendamping pengantin adalah seorang pelayan yang rendah hati bagi pasangan itu. Dia tidak boleh menonjolkan diri tetapi harus mempersiapkan panggung agar pengantin laki-laki dan pengantin perempuan dapat bersinar dan berbahagia. Dia bukan pusat perhatian tetapi menjadi saksi kebahagiaan pernikahan mereka.

Untuk menunjukkan bahwa Yesus lebih besar dari dirinya, Yohanes Pembaptis menyebut dirinya sebagai “sahabat mempelai laki-laki,” yang berdiri dan mendengarkan-Nya dan sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki. Yohanes seperti pendamping pengantin dalam sebuah pernikahan yang tidak egois dan sangat bahagia untuk Teman-nya, mempelai laki-laki, dan pengantin perempuan-Nya. Seperti pendamping pengantin atau sahabat mempelai laki-laki, tugas Yohanes adalah mempersiapkan jalan bagi murid-murid untuk menjadi mempelai perempuan dari mempelai laki-laki, untuk menjadi mempelai yang bersatu dengan Yesus, dipersatukan dengan Anak Allah melalui iman kepada-Nya. Yohanes memahami tempatnya dan ia menerima perannya dengan sukacita. Yohanes mengajarkan kepada murid-muridnya bahwa dalam segala hal, Yesus “harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”

Kita juga dipanggil untuk menjadi seperti Yohanes Pembaptis dalam hidup kita: memberikan kesaksian tentang Yesus melalui perkataan dan perbuatan kita, untuk membawa banyak orang kepada persatuan yang penuh sukacita dengan Yesus melalui iman kepada-Nya dan baptisan dalam Nama-Nya.

Doa:
Bapa Surgawi, tolong kami untuk tidak mementingkan  diri sendiri agar Yesus semakin besar dalam hidup kami, dan tolong kami selalu memperkenalkan Yesus kepada orang lain sehingga Dia juga dapat semakin besar dalam hidup mereka. Dalam Nama Yesus. Amin.

Pertanyaan Refleksi:

  1. Apakah saudara pernah menjadi bagian dari rombongan pengantin? Apa yang paling saudara ingat dari pengalaman itu?
  2. Mengapa Yohanes Pembaptis berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”?
  3. Jika Yesus adalah Mempelai Laki-laki dan kita adalah mempelai perempuan-Nya, seberapa pentingkah hubungan ini bagi hidup kita?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top